Inner Child: Sisi tersembunyi yang harus dipahami orang tua

Istilah inner child mungkin masih asing untuk sebagian orang tua. Padahal pengaruhnya sangat besar terhadap pola asuh yang akan diterapkan pada anak-anak mereka. Memang apa itu inner child? Mengapa inner child penting untuk dipahami orang tua?

 

Definisi inner child

Secara sederhana inner child dapat diartikan sebagai sisi kekanak-kanakan yang ada dalam diri individu (Yusa, 2009).  Sisi ini muncul karena adanya pengalaman hidup (bahagia maupun sedih) yang dialami individu saat masih kanak-kanak dan membekas hingga dewasa, bahkan ketika ia sudah menjadi orang tua. Saking “tersembunyinya”, orang-orang tidak sadar bahwa inner child ini memengaruhi cara mereka berpikir dan bersikap.

 

Luka pada inner child

Pengalaman masa kanak-kanak yang kurang menyenangkan seperti kekerasan fisik dan verbal atau kurangnya kasih sayang dapat menyebabkan luka pada inner child. Tapi kebanyakan orang hanya membiarkan pengalaman itu berlalu dengan sendirinya, tanpa mengetahui bahwa hal tersebut akan menjadi pemicu beberapa sikapnya di masa dewasa.

Mungkin ada beberapa orang tua yang pernah mengalami hal ini. Ketika anaknya tidak sengaja melakukan kesalahan sedikit saja, orang tua langsung marah besar, tidak lama kemudian datanglah penyesalan dan kebingungan tentang mengapa sikapnya harus marah seperti itu. Setelah ditelusuri ternyata dahulu orang tua dibesarkan dengan kekerasan verbal, setiap yang ia lakukan saat kecil haruslah sempurna. Saat dewasa ia berusaha menjadi orang tua yang berbeda, tetapi sisi inner child-nya selalu muncul.

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa luka inner child bisa membawa trauma yang dapat memengaruhi orang tua dalam mengasuh anak. 

 

Menyembuhkan luka inner child 

Jika tidak dimulai dari orang tua, hari ini, saat ini juga, luka inner child akan menjadi mata rantai yang sulit diputus. Lalu apa yang harus orang tua lakukan? 

Berdamailah dengan masa lalu. Sadari, akui, dan terima inner child dalam diri. 

Setelahnya cegah anak-anak kita memiliki luka inner child juga. Mengutip dari mommiesdaily.com terdapat tujuh kebiasaan yang harus dihindari karena dapat membentuk luka inner child pada anak, yaitu: 

  1. Membentak anak saat melakukan kesalahan

  2. Mengancam anak agar menurut

  3. Menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan masalah

  4. Berkata kasar dan kotor

  5. Membandingkan anak dengan anak lainnya

  6. Menertawakan anak saat terluka

  7. Memaksa anak berbagi

Hal ini dilakukan untuk mencegah anak menjadi orang yang rendah diri, abusive, tidak bertanggungjawab, tidak berempati, dan tidak bisa mempertahankan hak miliknya di masa dewasa.

.

.

Memahami inner child memang tidak selalu mudah karena setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Jadikanlah pengalaman kurang baik di masa lalu sebagai pelajaran untuk menjadi orang tua yang lebih baik di masa kini. 

 

Salam hormat untuk seluruh orang tua.

 

Indira Noor Darmawanti, S.Pd.

Guru BK SMP Negeri 18 Bandung

1 181
Enable Dark Mode