Mengontrol Aktivitas Gadget Anak/Remaja melalui Google Family Link (Oleh : Hanna Harsy)

Semenjak pandemi Covid-19, penggunaan gadget meningkat drastis. Pandemi mengharuskan individu beraktivitas dari rumah, termasuk anak dan remaja. Disampaikan oleh Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. Kristiana Siste, SP.Kj (K), dari hasil penelitan selama April hingga Juni 2020 kenaikan kecanduan internet pada remaja meningkat hingga 19,3 persen. Dari 2.933 remaja di 33 Provinsi yang dilakukan riset, 59 persen di antaranya juga mengaku mengalami peningkatan durasi online per hari (Rossa & Varwati, 2020). Layanan Google menjadi andalan dalam berbagai sektor. Termasuk, sektor pendidikan. Penggunaan Google Classroom menjadi umum di sekolah-sekolah. Layanan tersebut ‘memaksa’ penggunanya untuk membuat akun Google, tidak terkecuali anak dan remaja sebagai siswa. Dilansir dari suara.com, selama 2020, pertumbuhan pengguna layanan digital di Indonesia melonjak pesat. Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memaparkan, 37 persen penduduk Indonesia membuat akun baru untuk menikmati layanan digital. 

Gadget tentunya memberikan peluang bagi anak/remaja. Namun membuat mereka juga menghadapi lebih banyak risiko. Baik anak/remaja saat ini, tidak mungkin dilarang untuk berselancar di internet, dikarenakan penggunaan gadget sebagai sarana pembelajarannya.  Namun, menurut Utama, Sari, & Bismantolo (2021, hlm. 9) penggunaan gadget yang berlebihan akan berdampak buruk bagi anak. Anak yang menghabiskan waktunya dengan gadget akan lebih emosional, pemberontak karena merasa sedang diganggu saat asyik bermain game. Malas mengerjakan rutinitas sehari-hari. Lebih mengakhawatirkan lagi, jika mereka sudah tidak tengok kanan-kiri atau mempedulikan orang di sekitarnya. Oleh karenanya perlu adanya pengawasan dari orang tua terhadap aktivitas anak di dunia maya. 

Parental control merupakan fitur yang tersemat di layanan TV digital, video game, aplikasi komputer, dan perangkat mobile yang memungkinkan orang tua untuk membatasi atau menutup akses pada anak mereka (Zaenudin, 2019). Belum ada angka atau prosentase pasti mengenai penggunaan aplikasi parental control di Indonesia. Namun sebagai gambaran, laporan Pew Research tahun 2016 di Amerika Serikat (Ghosh dkk., 2018) menunjukkan, hanya 16% Orang Tua yang menggunakan aplikasi parental control. Rendahnya tingkat pemantauan gadget anak/remaja ini menunjukkan kemungkinan terputusnya hubungan antara solusi yang tersedia dengan penggunanya.

Lalu, bagaimana cara orang tua melakukan kontrol pada anak/remaja perihal pemakaian gadget mereka? Apabila Anda dan anak Anda memiliki akun Google. Anda dapat memanfaatkan fitur Google Family Link sebagai alat bantu pengawasan. Melalui Google Family Link, orang tua dapat memantau dan menerapkan aturan aktivitas anak pada perangkat Android mereka. Dikutip dari families.google.com, berikut beberapa fitur yang tersedia bagi orang tua:

  1. Melihat aktivitas anak di gadget, aplikasi apa saja yang dibuka dan berapa lama ia menggunakannya.

  1. Mengelola aplikasi yang dapat diunduh pada gadget. Orang tua juga dapat mengelola pembelian dalam aplikasi atau menyembunyikan aplikasi tertentu.

  1. Mengatur batasan pemakaian gadget milik anak.

  1. Mengunci perangkat anak, termasuk ketika saat mereka tidur, berkumpul keluarga, atau waktu makan.

Cara menggunakannya pun cukup mudah. Ketika anak sudah memiliki akun Google, orang tua dapat mendownload Family Link ke perangkat mereka sendiri. Kemudian, Family Link akan memandu orang tua untuk menautkan akun mereka ke anak. 

Google Family Link semula hanya ditujukan bagi anak-anak di bawah usia 13 tahun, Namun setelah mendapat banyak masukan dari para orangtua, Google menambah batas usia hingga remaja. Meski demikian,ada perbedaan pengawasan dari Family Link bagi para remaja. (Faozi dkk., 2020, hlm. 48). Ketika anak mencapai usia 13 tahun, mereka akan memiliki opsi sebelum pada akhirnya lepas dari Family Link. Sebelumnya, orang tua akan mendapatkan email yang memberitahukan bahwa anak dapat mengelola akunnya sendiri pada hari ulang tahun mereka ke-13. Jika anak memilih untuk mengelola akunnya sendiri namun orang tua ingin tetap memantaunya, fitur Family Link dapat diaktifkan kembali.

 

Referensi:

https://families.google.com/intl/id/familylink/

Faozi, K. dkk. (2020). Sosialisasi Aplikasi Google Family Link Sebagai Parenting Control Tool pada Anak di RA/TK Rizqi Pamulang. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat KOMMAS, 1(3), 47-52. e-ISSN: 2723-4517

Jemadu, L. & Prastya, D. (2020, November 24). Pengguna Layanan Digital di Indonesia Naik 37% Gara-gara Covid-19 [Halaman web]. Diakses dari https://www.suara.com/tekno/2020/11/24/222526/pengguna-layanan-digital-di-indonesia-naik-37-gara-gara-covid-19

Rossa, V. & Varwati, L. (2020, Agustus 5). Kecanduan Internet pada Remaja Naik 19,3 Persen selama Pandemi Covid-19 [Halaman web]. Diakses dari https://www.suara.com/health/2020/08/05/205708/kecanduan-internet-pada-remaja-naik-193-persen-selama-pandemi-covid-19

Utama, F.P, Sari, J.P, & Bismantolo, P. (2021). Peningkatan Kapasitas Orang Tua Dalam Mengawasi Aktivitas Anak Menggunakan Gawai Berbasis Android Dengan Google Family Link. Jurnal Abdi Reksa, 2(1), 9-15. e-ISSN: 2745-7575

Wisniewski, P., Ghosh, A. K., Xu, H., Rosson, M. B., & Carroll, J. M. (2017). Parental Control vs. Teen Self-Regulation. Proceedings of the 2017 ACM Conference on Computer Supported Cooperative Work and Social Computing - CSCW ’17. doi:10.1145/2998181.2998352

Zaenudin, A. (2019, Juni 8). Memahami Parental Control di Dunia Digital [Halaman web]. Diakses dari: https://tirto.id/memahami-parental-control-di-dunia-digital-d9sD

1 181
Enable Dark Mode